Kamis, 26 Februari 2015

Metode Trading Price Action


Banyak trader forex yang cenderung mencoba menganalisa beberapa variabel dalam waktu yang bersamaan, terutama trader yang belum memiliki sebuah metode dan strategi tertentu untuk diterapkan dalam trading sehari-hari. Sering mereka menggabungkan beberapa indikator teknikal sekaligus, melihat beberapa pasangan mata uang dalam berbagai time frame serta membaca perkembangan berbagai berita fundamental. Cara seperti ini jelas tidak efektif. Mereka bermaksud memahami pergerakan harga pasar dengan cakupan yang terlalu luas sehingga membingungkan dan cenderung untuk over-analysis.

Artikel ini berhubungan dengan konsep ‘spesialisasi’ dalam trading forex, dimana metode price action adalah salah satu bagiannya. Trader forex adalah sebuah profesi, dan seperti halnya profesi lain pada umumnya, spesialisasi selalu lebih menguntungkan. Dokter umum banyak dijumpai dan bagi yang beruntung penghasilannya bisa sangat baik, tetapi dokter spesialis yang lebih langka dari dokter umum sudah barang tentu akan mendapatkan penghasilan lebih baik karena mereka menguasai bidang spesial yang tidak dimiliki oleh dokter umum. Seorang trader forex yang mempunyai metode tertentu yang telah teruji adalah spesialis dalam trading.

Keuntungan metode price action
Keuntungan utama metode trading price action adalah metode ini bisa digunakan dengan sederhana. Kita hanya perlu fokus pada pola pergerakan harga pasar apa adanya serta level-level support dan resistance. Indikator teknikal sangat minim digunakan, biasanya hanya indikator moving average untuk konfirmasi. Metode price action bisa diterapkan pada seluruh pasangan mata uang dan time frame trading yang digunakan biasanya daily atau 4-hour. Jika pada salah satu time frame tersebut telah terbentuk formasi dalam setup price actionnya, maka tidak harus diperbandingkan lagi dengan time frame yang lebih besar ataupun yang lebih kecil. Dengan terbiasa menggunakan metode price action secara disiplin dalam trading, trader tidak akan ragu ketika hendak membuka posisi karena sinyal trading yang dihasilkan biasanya cukup valid.

Contoh penerapan metode price action
Berikut dicontohkan metode trading dengan price action pada EUR/JPY daily. Anda bisa mengembangkan metode price action dengan strategi Anda sendiri, terutama dalam menentukan entry dan exit point serta risk/reward ratio. Disini dicontohkan EUR/JPY karena pasangan mata uang ini cukup populer, likuid dan bisa diprediksi (predictable).
Pertama kali adalah menentukan kondisi pasar, trending atau ranging (sideways)



Setelah diketahui kondisi pasar sedang uptrend, kemudian kita menentukan level-level kunci support dan resistance:




Kita gunakan indikator exponential moving average (ema) 8 dan ema 21 sebagai konfirmasi setup price action yang terbentuk. Seperti diketahui dalam setup price action terdapat pin bar, fakey bar dan inside bar. Dalam chart EUR/JPY ini tampak setup fakey bar oleh penolakan (rejection) dari ema8 sebagai level support dinamis, dan jika setup ini benar (terkonfirmasi) harga akan bergerak sesuai arah uptrend.



Ciri utama formasi fakey bar terdiri dari inside bar, diikuti oleh bar ‘false break’ yang terbentuk dan ditutup pada level range inside bar. Entry point untuk posisi buy bisa ditentukan saat level atas inside bar ditembus, sedang level stop loss ditetapkan pada level low dari formasi fakey bar (yang ‘false break’ )
 



Akhirnya kita tentukan risk/reward ratio. Bisa 1:1 atau 1:2 sesuai dengan strategi money management yang telah kita sepakati. Kita juga bisa memaksimalkan profit dengan menggunakan fasilitas trailing stop, teknik averaging ataupun pyramiding.


Rabu, 25 Februari 2015

Bolehkah Trading Saat Akhir Pekan?



Dulu, saat awal-awal belajar trading, ada temen trader yang ngasih saran, sebaiknya jangan trading di hari Jum’at.  Dia begitu serius dalam memberikan saran tersebut, sampai-sampai kesan yang saya tangkap saat itu adalah: trading di hari Jum’at adalah satu hal yang "tabu". 

Alhasil, selama beberapa minggu setiap hari Jum’at, saya cuma buka trading platform dan asyik mengamati chart, kadang sampai berjam-jam, tanpa berani melakukan open position. Untunglah, kemudian saya coba mencari second opinion, bertanya kepada temen-temen trader yang lain, apakah mereka memang tidak melakukan open position di hari Jum’at.



Ada banyak jawaban yang saya terima saat itu. Mulai dari yang serius, seperti: iya sebaiknya memang berhati-hati kalo trading di hari Jumat, apalagi di jam-jam akhir menjelang market tutup. Alasannya? Katanya sih karena hari Jum'at untuk sebagian besar trader adalah hari terakhir ngejar target mingguan, jadinya banyak yang rada nekad take profit. Ada juga sih yang jawabannya: lebih lugas, katanya baginya gak ada bedanya antara hari Jum’at dengan hari-hari yang lain, asal system yang dia anut mendukung untuk open position, ya open position-lah dia. Yah, bahkan katanya, seringkali satu posisi ada yang dia biarkan terfloating selama berminggu-minggu!

Atau yang lebih konyol lagi malahan menjawab: owh… iya, bener… hari Jum’at itu bukan "hari yang baik" untuk trading, terutama Jum’at Kliwon. Kalo yang ini mah pake indikator klenik mungkin. Hehehe!

Karena saking beraneka jawaban yang muncul, akhirnya saya memutuskan: untuk tau apa dan bagaimana efek trading di akhir pekan, saya harus mencobanya sendiri. Memang gak mantep kayaknya, kalo gak ngalami sendiri segala sesuatu. Termasuk juga mengalami sendiri loss atau profit karena adanya gap yang kadang terjadi di akhir-awal pekan. Jadilah akhirnya saya justru sering mencoba trading di hari Jum’at. Terkadang gak ada hal istimewa yang terjadi. Dalam artian, gerakan suatu pair tidak banyak melenceng dari sifat aslinya, dan di awal pekan kemudian juga gak gap yang terjadi. Yah, klo gap cuma sekitar 5 pips mah masih wajarlah.

Tapi, terkadang juga terjadi gap yang lumayan di awal pekan. Saya bilang lumayan, karena bisa langsung melampaui TP atau menyabet SL kita hehehe… Apa dan bagaimana sih sebenernya gap itu? Secara umum, bisa dijelaskan bahwa gap di awal pekan itu terjadi karena nilai matauang suatu negara dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk tentunya faktor ekonomi, politik dan faktor-faktor lainnya yang terkait dengan kegiatan  dan kejadian yang dialami oleh negara bersangkutan. Berbagai macam kejadian tersebut tentunya tidak kenal yang namanya "libur", sehingga mau tidak mau tetap berjalan dan terjadi meskipun di akhir pekan, saat market tutup. Nah, terkadang kejadian atau peristiwa yang istimewa dapat membuat nilai mata uang sebuah negara melonjak ataupun anjlok, sehingga pada saat market buka di awal pekan, terjadi lonjakan atau anjlokan harga pada satu pair. Itulah yang sering kita sebut sebagai gap.

Terus, bagaimana kita mensikapi kemungkinan adanya gap tersebut? Yah, itu kembali kepada gaya trading masing-masing trader sih. Ada yang memang lebih memilih menghindari gap tersebut sehingga cenderung menutup posisi sebelum market tutup. Ada juga yang membiarkan sebuah posisi terbuka di akhir pekan, hanya saja di lindungi dengan SL atau hedging/locking. Ada bahkan yang justru mencari keuntungan dari gap yang diharapkan terjadi dengan memasang pending order sesaat menjelang market tutup.

Semuanya kembali ke selera masing-masing trader sih. Anda bebas memlih, apakah akan menghindari, menghadapi atau justru mencari gap ini. Jadi, trading di akhir pekan? Yah, kenapa tidak. Asal kita tau dan sadar segala resiko yang mungkin terjadi, semuanya tergantung kepada kita sendiri. Gak ada hari yang tabu kok, buat trade. Lah, klo semua trader libur di hari Jum’at, wah, bakalan gak seru tuh. Ntar pair gak ada yang gerak dong?

Selasa, 24 Februari 2015

Trading Dengan False Breakout




Breakout adalah penembusan harga pada suatu level tertentu yang dianggap penting, bisa level resistance, support atau level psikologis angka bulat. Jika pergerakan harga gagal menembus level tersebut maka dikatakan breakout yang salah atau false breakout. Menurut teori, support atau resistance adalah level penting yang seharusnya ditembus (break) atau tidak ditembus (bounching). Dengan acuan ini maka trader seharusnya entry sell ketika harga sudah melampaui level support atau buy jika harga lewat level resistance.

Namun dalam perkembangannya, kenyataan di pasar sering kali berbeda. Harga bisa break sesaat untuk segera berbalik arah lagi (bounching) atau terjadi false breakout. Trader yang memanfaatkan momen ini untuk entry bisa disebut contrarian trader, dan cara yang digunakan dinamakan contrarian trading. Trading dengan false breakout adalah salah satu cara dalam contrarian trading.

Contrarian trading bisa dilakukan misalya dengan mencari peluang entry buy pada saat pergerakan harga turun atau peluang sell saat harga dianggap telah overvalued atau terlalu mahal, tentu saja setelah disesuaikan dengan kemungkinan terjadinya pembalikan arah trend (trend reversal) melalui konfirmasi indikator teknikal atau formasi price action yang terbentuk.

Jika kebetulan Anda gemar menggunakan strategi breakout mungkin pernah mengalami ketika Anda telah entry dibawah level support atau diatas resistance saat harga menembus, tiba-tiba pergerakan harga berbalik arah. Ada beberapa sebab mengapa pasar gagal breakout, yang tampak jelas adalah menurunnya momentum sesaat setelah harga berhasil break. Pada level-level penting ini terjadi pertarungan antar pemain besar.

Bank sentral, institusi keuangan dan para big boys. Jika bank sentral tidak ingin harga lewat level tertentu maka akan segera melipat gandakan ukuran lot (position size), dan jika para big boys merasa kurang mendapat dukungan, atau merasa tidak cukup kuat melawan bank sentral, maka mereka akan ikut arus, entry pada arah reversal. Oleh karena itu pada level-level penting tersebut pergerakan harga akan meluncur dengan cepat dan tajam karena momentum yang sangat kuat, baik ketika break maupun saat berbalik arah (false breakout).

Sebagai contoh, berikut false breakout pada trend bullish yang pernah terjadi pada pergerakan harga GBP/USD daily. Pada awal Nopember 2007 GBP/USD berhasil tembus level 2.1050, 50 pip diatas level psikologis 2.1. Perlu diketahui Pound belum pernah mencapai angka 2 per US dollar-nya sejak Maret 1993. Setelah formasi bar candlestick membentuk engulfing bearish, selanjutnya Pound-dollar merosot hingga ke level 1.5 setahun kemudian (Nopember 2008), 6000 pip dari level false breakout. Perhatikan sentimen pasar di hari-hari selanjutnya yang cenderung bearish.




Contoh lain pada pasangan mata uang populer EUR/USD. Pada chart weekly berikut tampak terjadi beberapa false breakout pada trend bullish maupun bearish, di level-level angka bulat.



 Perhatikan semakin kuat level resistance atau support maka semakin kuat pula pergerakan arah reversal yang terjadi setelahnya.

Dalam pasar forex false breakout lebih sering terjadi mengingat pada umumnya kondisi pasar yang benar-benar trending hanya sekitar 20% hingga 30% dari seluruh pergerakan harga. Oleh karenanya strategi ini cukup populer dalam trading forex. Breakout dan false breakout pada kondisi sideways

Kondisi false breakout sering kali terjadi pada pasar yang sideways (ranging), seperti pada contoh berikut:




Disini terlihat 4 kali false breakout, 2 kali pada level resistance dan 2 kali pada level support. Trader yang terbiasa dengan analisa price action tentu bisa mengantisipasi dengan formasi bar yang terbentuk, pin bar, inside bar ataupun doji. Dengan pengamatan setup price action dan konfirmasi indikator teknikal akan bisa diketahui apakah kondisi breakout tersebut telah sempurna atau belum.

Agar aman, contrarian trader akan cenderung menggunakan limit order pada area yang dekat dengan level resistance atau support, yaitu limit sell pada area 2 dan 4, dan limit buy pada area 1 dan 3. Sedang trader yang agresif akan memanfaatkan terjadinya kondisi breakout yang sempurna dengan stop order, yaitu stop buy pada area 2 atau 4, dan stop sell pada area 1 atau 3. Seperti tampak pada contoh diatas, breakout yang sempurna terjadi setelah 4 kali false.

Namun demikian pending order seperti itu belum tentu aman, dan lebih bersifat untung-untungan karena kita tidak tahu pasti alur perilaku harga (order flow) pada level-level order yang kita tempatkan. Untuk lebih obyektif kita mesti mengetahui perilaku pergerakan harga keseluruhan dengan mengacu pada time frame yang lebih tinggi untuk mengetahui trend yang dominan pada saat ini. Jika dominan uptrend maka keadaan sideways akan cenderung breakout pada resistance, dan sebaliknya jika yang dominan downtrend.

Berikutnya kita lihat formasi bar candlestick dan setup price action di sekitar level resistance dan support. Pada contoh diatas, pada area 1 tampak inside bar diikuti oleh doji, menunjukkan konsolidasi pasar yang kuat. Selain itu juga terjadi rejection pada level support. Kita bisa entry buy ketika level tertinggi mother bar telah terlewati. Pada area 2 tampak pin bar dan inside bar serta rejection pada resistance. Hal ini menunjukkan pasar yang sedang konsolidasi setelah harga menguji level resistance. Entry sell bisa dilakukan ketika level terendah mother bar telah ditembus, demikian pula pada area 4.

 False breakout pada level psikologis

Contoh lain adalah false breakout yang sering terjadi pada level psikologis, seperti berikut ini:







 False breakout terjadi 2 kali pada level psikologis 1.6000. Pertama saat swing low, dengan terbentuknya inside bar, dan kedua saat terbentuk formasi bullish engulfing.

Dalam trading dengan false breakout hendaknya kita tidak terburu-buru untuk entry. Tunggu hingga arah sentimen pasar jelas.